Laporan Tutorial DoeLoe

January 23, 2010 at 10:55 am (Uncategorized) ()

Tujuan Pembelajaran

Mahasiswa mampu menjelaskan

1. Tahapan proses pertumbuhan dan perkembangan anak

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sera peranan hormonal dalam pertumbuhan dan kelainan yang sering terjadi

3. Penilaian status gizi

4. Asupan nutrisi yang adekuat

1. Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

· Tahun Pertama

Pertumbuhan secara umum pada tahun pertama bayi cukup bulan :

BB 2 kali BB waktu lahir pada umur 6 bulan.

B 3 kali BB eaktu lahir pada umur1 tahun.

Panjang badan bertambah 25 – 30 cm pada tahun pertama.

Lingkar kepala usia 6 bulan 44 cm.

Lingkar kepala usia 1 tahun 47 cm

Lingakar kepala dan lingkar dada pawa umur satu tahun berukuran sama

Penambahan jaringan subkutan pada bulan – bulan pertama, puncaknya pada bulan ke – 9.

Fontanela lahir ukurannya 3 x 3 cm, agak lebih lebar pada umur 6 bulan dan menutup pada umur 9 – 18 bulan.

Fontanela posterior menutup pada umur 4 bulan.

Gigi susu muncul pada umur 5 – 9 bulan, dengan urutan tumbuh : gigi seri tengah bawah, gigi seri tengah atas, gigi seri lateral atas, gigi seri lateral bawah, geraham susu pertama, gigi taring dan gerahan susu kedua.

· Tahun kedua

Tingkat petumbuhan lebih lambat dan nafsu makan menurun

Lemak bayi dibakar karena gerakannya yang bertambah

Lumbal lordosis berlebihan yang membuat perut menonjol

Otak terus tumbuh denga mielinisasi sepanjang tahun kedua

Bayi yang sangat aktif dan berani cenderung berjalan lebih awal

Jumlah gigi 14 – 16 buah

· Tahun – tahun prasekolah ( 2 – 5 tahun )

Pada akhir tahun kedua, pertumbuhan otak dan tubuh lambat, seimbang dengan penurunan kebutuhan nutrisi dan nafsu makan

Pertambahan BB 2 kg/ tahun

Pertambahan TB 7 cm / tahun

Bagian utama perut anak menjadi rata dan tubuh menjdi langsing

Ketajaman penglihata 20 / 30 pada usia 3 tahun dan 20 / 20 pada usia 4 tahun

Pada usia 3 tahun telah ada 20 buah gigi primer.

· \Tahun – tahun awal sekolah ( 6 – 12 tahun )

Pertambahan BB 3 – 3,5 kg/ tahun

Pertambahan TB 6 cm/ tahun

Pertambahn lingkar kepala 2 – 3 cm

Sekitar usia 6 tahun setelah tumbuhnya gigi – gigi molar pertama, terjadinya kehilangan gigi – gigi desidua. Penggantian dengan gigi dewasa terjadi dengan kecepatan sekitar 4 buah gigi / tahun.

Mielinisasi telah sempurna pada umur 7 tahun

· Kedewasaan ( 10 – 20 tahun )

a. Remaja awal

Tanda pubertas pertama pada anak perempuan adalah perkembangan tunas – tunas peyudara pada usia 8 tahun. Tanda pubertas pada anak laki – laki adalah pembesaran testis pada usia 9,5 tahun.

Pertumhuhan paling cepat terjadi dini pada anak perempuan dan lebih lambat pada anak laki – laki.

b. Remaja Pertengahan

Kecepatan pertumbuhan 6 – 7 cm / tahun

Pada permpuan puncak pertumbuhan  cepat pada usia 11,5 tahun dengan kecepatan tertingi 8, 3 cm / rahun dan melambat lalu berhenti pada usia 16 tahun

Pada Laki – laki pertumbuhan cepatnya mulai lebih lambat, memuncak pada usia 13,5 tahun dengan 9,5 cm/ tahun kemudian melamabat dan berhenti pada umur 18 tahun.

Pertumbuhan BB paralel dengan pertumbuhan linear.

Pelebaran bahu pada anak laki – laki dan pelebaran pinggang pada anak permpuan

c. Remaja akhir

Tahap akhir pertumbuhan payudara, penis dan rambut kemalua yang terjadi pada usia 17 – 18 tahun

Perubahan – perubahn kecil dalam penyebaran rambut sering kali berlanjut selama beberapa tahun pada anak laki – laki, termasuk pertumbuhan rambut wajah dan dada serta permulaan kebotakan pada laki – laki.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Anak

1. Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

1. Ras/etnik atau bangsa.
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.

2. Keluarga.
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus.

3. Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.

4. Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki.  Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

5. Genetik.
Genetik (heredokonstitusional) adalah bawaan anak  yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.

6. Kelainan kromosom.
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.

2. Faktor luar (eksternal).

  1. Faktor Prenatal

1. Gizi

2. Nutrisi ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan janin.

3. Mekanis

4. Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot.

5. Toksin/zat kimia

6. Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.

7. Endokrin

8. Diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, hiperplasia adrenal.

9. Radiasi

10. Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung.

11. Infeksi

12. Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Sitomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin: katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung kongenital.

13. Kelainan imunologi

14. Eritobaltosis fetalis timbul atas dasar perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan hiperbilirubinemia dan Kern icterus yang akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.

15. Anoksia embrio

16. Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan terganggu.

17. Psikologi ibu

18. Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.

  1. Faktor Persalinan
    Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
  2. Faktor Pascasalin

1. Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.

2. Penyakit kronis/ kelainan kongenital
Tuberkulosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.

3. Lingkungan fisis dan kimia.
Lingkungan sering disebut melieu adalah tempat anak tersebut hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu (Pb, Mercuri, rokok, dll) mempunyai dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.

4. Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertekan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

5. Endokrin
Gangguan hormon, misalnya pada penyakit hipotiroid akan menyebabkan anak mengalami hambatan pertumbuhan.

6. Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.

7. Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

8. Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya  penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.

9. Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan.

Hormon – hormon yang mempengaruhi pertumbuhan :

1. Hormon tiroid

Penting dalam maturasi tulang pada masa prenatal dan pasca natal serta myelinisasi sistem saraf pusat pada masa prenatal

Mempunyai efek pada sekresi growth hormone, mempengaruhi kondrosit secara langsung dengan meningkatkan sekresi IGF-I serta memacu maturasi kondrosit.

Defisiensinya bikin retardasi pertumbuhan dan penghentian maturasi tulang.

2.     Hormon pertumbuhan

–      Berperan pada seluruh fase pertumbuhan baik pra ataupun pasca natal.

–      Anak yang mengalami penurunan growth hormone hanya akan mencapai tinggi akhr lebih kurang 130 cm.

–      Pada periode pascanatal growth hormon bekerja melalui sistem GH – IGF-I dan IGFBP-3. GH akan meningkatkan  produksi IGF-I dan IGFBP-3 yang terutama dihasilkan oleh hepar dan kemudian menstimulasi produksi IGF-1 lokal pada kondrosit.

–      GH dikeluarkan secara periodik hampir selalu terdapat dengan kadar yang sangan rendah. Setiap hari dengan 8 – 9 kali peningkatan hormon perrtumbuhan selama 10 – 20 menit. GH meningkat juga pada waktu exercise dan tidur.

–      Pada pubertas GH meningkat secara bersamaan dengan menigkatnya hormon seks yang akan menyebabkan pacu tumbuh.

3. Hormon insulin

–   Efekya pada pertumbuhan pascanatal.

–   Terbukti pada anak yang menderita diabetes melitus tipe 1 yang tidak terkontrol akan mengganggu pertumbuhannya. Terjadi penurunan kecepatan pertumbuhan disertai peningkatan kadar hormon pertumbuhan serta penurunan kadar IGF-I. Hal ini menggambarkan keadaan relatif resisten terhadap hormon pertumbuhan. Pemberian insulin yang intensif akan memperbaiki kecepatan pertumbuhan dan peningkatan kadar IGF-I

Gangguan Pertumbuhan yang Sering Terjadi pada Anak

· Perawakan pendek

Klasifikasi perawakan pendek

1. Variasi normal perawakan pendek

Perawakan pendek familial

Constitusional delayed growth and puberty

Perawakan pendek idiopatik

2. Gangguan pertumbuhan primer

Pertumbuhan janin terhambat

Displasia skeletal

Sindrom – kelaianan kromosom

3. Gangguan pertumbuhan sekunder

Malnutrisi

Penyakit kronik

4. Kelainan endokrin

Defisiency growth hormone

Defisiency hormon tiroid

Diabetes melitus

Diagnosis

Untuk menghindari terlewatkannya diagnosis patologik yang dapat meyebabkan hilangnya kesempatan untuk meningkatkan tinggi badan maka langkah awal adalah mentukan apakah perawakan pendek ini patologik atau normal.

Kriteria awal pemeriksaan terhadap anak pendek

· TB dibawah percentil 3 atau dibawah tinggi rata – rata populasi

· Kecepatan tumbuh dibawah percentil 25 kurva kecepatan tumbuh atau kurang dari 4 cm/tahun pada anak umur 4 – 10 tahun

· Prakira tinggi dewasa dibawah potensi genetik

· Kecepatan tumbuh melamabat setelah umur 3 tahun dan turun menyilang garis percentilnya pada kurva panjang / tinggi badan.

Tatalaksana

· Setiap anal dengan perawakan pendek harus diketahui penyebabnya dan keluarga perlu dijelaskan mengenai potensi normal pertumbuhan anak sesuai dengan potensi genetiknya.

· Sebagian kasus tidak perlu langsung diterpai, dapat hanya dengan pemantauan berkala, namun sebagian kasus yang jelas penyebabnya dapat diterapi sesuai penyebabnya. Kasus yang jelas penyebabnya seperti kelainan endokrin dapat segera diobati.

· Khusus growth hormone deficiency dapat diberikan terapi substitusi hormone ( somatotropin recombinant ) dengan dosis 15 – 20 U/m2/minggu. Dkatakan responsive dengan growth hormone kalau kecepatan tumbuh minimal 2 cm / tahun di atas kecepatan tumbuh sebelum diberikan terapi. Biasanya kecepatan tumbuh pada tahun pertama pengobatan adalah 9 – 12 cm / tahun.

· Perawakan tinggi ( gigantisme )

Etiologi

Terdapatnya tumor pada kelenjar hipofisis yang menyekresi growth hormone

Kelainan pada hipotalamus yang mengarah pada pelepasan growth hormone secara berlebihan. Bila peningkatan growth hormone terjadi pada anak – anak maka pertumbuhannya akan sepeti raksasa dan bila terjadi setelah pertumbuhan somatis selesai akanmenyebabkan akromegali ( penebalan tulang – tulang dan jaringan lunak ).

Patofisiologis dan patogenesis

Sel asidofilik, sel pembentuk growth hormon di kelnjar hipofisis anterior menjadi sangat aktif arau bahkan timbul tumor pada kelenjar hipofisis tersebut. Hal ini mengakibatkan sekresi growth hormon jadi sangat tinggi. Akibatnya seluruh jaringan tubuh tumbuh dengan cepat sekali termasuk tulang.

Pada gigantisme hal ini terjadi sebelum masa remaja yaitu sebelum epifise tulang panjang bersatu dengan batang tulang sehingga tiggi badan akan terus bertambah.

Biasanya penderita gigantisme juga mengalami hiperglikemi karena produksi growth hormon yang sangat banyak bikin growth hormon tersebut menurunkan pemakaian glikosa di seluruh tubuh sehingga banyak glukosa yang beredar d pembuluh darah.

Manifestasi klinis

Pertumbuhan linear yang cepat

Raut wajah kasar

Pembesaran kaki dan tangan

Pada anak muda pertumbuhan cepat kepala mendahului petumbuhan linear

Pertumbuhan abnormal menjadi nyata pada masa pubertas

Penatalaksaan

· Pemeriksaan penunjang, yaiu pemeriksaan laboratorium, diantaranya: pemeriksaan glukosa darah, growth hormon dan somatostatin, dan pemeriksaan radiologik melipitu CT-SCAN dan MRI.

· Pengobatan, diantaranya :

Radiasi kelenjar hipofisis

Pembedahan kelenjar hippofisis untuk mengangkat tumor hipofisis

Pengobatan medis dengan menggunakan octreotide, suatu analog somatostatin. Octreotide dapat menurunkan supresi kadar growth hormon dan IGF-I, mengecilkan ukuran tumor dan memperbaiki gambaran klinis.

· Gizi kurang

Marasmus

Etiologi :

Masukan kalori yang kurang

Penyakit metabolik

Kelainan kongenital

Infeksi kolik

Patofisiologis :

Untuk kelangusungan hidup jaringan dibutuhkan asupan energi dalam keadaan normal. Jika asupan kurang, untuk pemenuhannya digunakan cadangan protein sebagai sunber energi. Penghancuran jaringan pada defisiency kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi tetapi juga memungkinkan sintesis glokosa dan metabolit essensial lainnya seperti berbagai asam amino. Karena itu pada marasmus kadang – kadang masih ditemukannya kadar asam amino yang normal sehingga hati dapat membentuk cukup albumin.

Gejala Klinis :

Kurus kering

Rewel, cengen, sering bangun malam

BB menurun, jaringan subkutan menghilang, turgor jelek dan kulit keriput

Vena superfisialis kepala lebih nyata

Fontanel cekung, tulang pipi dan dagu terlihat menonjol, perut buncit

Edema ringan pada tungkai, tidak pada muka

Nampak sianosis

Kwashiorkor

Etiologi :

Defisiensi protein dan energi

Sering terjadi pada anak balita ( 1,5 tahun – 2 tahun )

Berkurangnya keseimbangan nitrogen karena : diare kronik, malabsorbsi protein, hilangnya proyein melalui air kemih, infeksi menahun, luka bakar dan penyakit hati.

Patofisiologi :

Terjadi gangguan metabolit dan perubahan sel yang menyebabkan eema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein, akan terjadi kekurangan berbagai kekurangan asam amino esensial dalam serum yang diperlukam untuk sintesis dan metabolisme. Selama diet mengandung cukup karbohidrat maka insulin meningkat dan asam amino dalam serum yang jumlahnya kurang akan disalurkan ke jaringan otot. Makin berkurangnya asam amino dalam serum, berkurang pula produksi albumin sehingga timbul edema.

Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta lipoprotein sehingga transpor lemak dari hati ke depott penyimpanan terganggu sehingga lemak akan tertimbun di hati.

Gejala Klinis :

Sembab, cengeng, letargik.apatik

Pertumbuhan terhamabat. Penuruna BB tidak mencolok karena tersamar dengan adanya edema.

Jaringan subkutan tipis dan lembek

Intoleransi laktosa

Rambut pirang, kasar dan kaku serta mudah dicabut

Kulit kering dan bersisik

Kerusakan hati

Pemeriksaan Laboratorium :

Adanya penurunan kadar albumin, kolesterol dan glukosa dalam serum

Kadar asam amino esensial dalam plasma lebih rendah daripada asam amino non esensial

Immunoglobuli serum norma atau meningkat.

Kadar vitamin dan mineral dalam serum berkurang

Pengobatan :

Makan makanan yang banyak mengandung protein, bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.

Makanan harus mudah dicerna dan diserap

Makanan diberikan secara bertahap

Pemantauan penderita dan penyuluhan gizi terhadap keluarga.

Setelah sembuh, makanan yang berprotein tinggi di ubah ke makanan dengan kebutuhan nutrien yang baku.

Marasmik kwashiorkor

Gejala klinis :

Gagal tumbuh kembang

Edema, dermatitis, hepatomegali, perubahan mental, hepotrofi otot, penurunan jaringan lemak subkutan, kerdil, anemia, defisiensi vitamin.

BB 60 % kurang dari normal yang normal

Kadar albumin  dan gula darah menurun

Perlemakan ringan pada hati

Osteoporosis ringan

Penatalaksanaan ;

Terapi nutrisi

Penyuluhan gizi keluarga

· Gizi Lebih ( Obesitas )

Etiologi :

Kelabihan masukan makanan sehingga simpanan lemak tubuh bertambah bila masukan nergi melebihi pengeluran

Nafsu makan yang tinggi

Penambahan jumlah atau ukuran sel lemak dan adiposa.

Manifestasi klinik :

Anak lebih berat daripada kelompoknya, umur tulang lebih tua.

Pada anak laki – laki terjadi adipositas di daerah dada seperti tumbuhnya payudara

Abdomen menggantung

Ekstremitas lebih besar di lengan atas dan paha, tangan dan jari kecil, lutut bengkok ( genu valgum )

Diagnosos banding :

Anak dengan obesitas yang ditentukan dengan IMB percentil 95 atau lebih menurut umur haus mendapat evaluasi medik yang teliti untuk gangguan yang mungkin mempunyai hubungan medik primer dengan obesitas.

Pencegahan dan Pengobatan :

Di dorong untuk taat program sistemik latihan fisik yang giat dan keseimbangan diet yang sesuai dengan tingkat pengeluaran energinya.

Upaya untuk mengubah perilaku yang dimulai dari bayi, yaitu : pemberian makanan hanya bila ada tanda – tanda lapar pada umur 1 tahun dan mendidik anak makan kalau lapar.

Modifikasi diet dan kandungan kalori

Definisi dan penggunaan program latihan fisik yang sesuai

Modifikasi perilaku untuk anak

Keterlibatan keluarga pada terapi

3. Penilaian Status Gizi Anak

Status gizi anak dapat diketahui melalui pemeriksaan antopometri, psikologik serta pemeriksaan kesehatan.

PEMERIKSAAAN PERTUMBUHAN BAYI – REMAJA

Untuk memeriksa pertumbuhan bayi – remaja, setelah kita melakukan berbagai pengukuran pertumbuhan seperti panjang / / tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala, selanjutnya yang kita lakukan adalah membaca atau menginterpretasikan hasil pengukuran tersebut. Interpretasi pengukuran dilakukan dengan memplotkan data yang ada ke dalam grafik pertumbuhan . Ketika kita membuka grafik pertumbuhan, maka kita akan melihat 7 kurva dengan pola yang sama. Tiap kurva tersebut mewakili persentil yang berbeda : 5th, 10th, 25th, 50th, 75th dan 90th. Percentil 50 menunjukkan rata – rata nilai pada umur tersebut. Selain itu ada juga grafik dengan tambahan percentile 10th, 25th, 75th, 90th, dan 97th. Biasanya dokter menggunakan grafik ini jika angka yang di plot berada di luar dari kurva yang standar. Pertumbuhan seorang anak akan di-plot pada persentil – persentil tersebut. Untuk mempelajari bagaimana cara membaca atau menginterpretasikan grafik tersebut, perhatikan contoh berikut. Seorang bayi yang memliki lingkar kepala percentil 90th akan di-plot patda grafik pertumbuhan. Jadi termasuk kurva persentil 90th. Artinya lingkar kepala bayi termasuk >= 90 % dari total populasi anak seusianya yang ada di negara tersebut. Sedangkan 10 % antara 10th dan 25th dari populasi anak memiliki  ukuran lebih dari itu. Jika berat badan seorang anak berumur 4 tahun berada pada persentil 20th, berarti ia berada pada kurva di antara 1oth dan 25th. Ini artinya juga 80 % dari anak – anak sebayanya memiliki berat di atas anak tersebut dan 20 % lainnya memiliki berat dibawah anak tersebut. Kesimpulannya, besar atau rendahnya persentil tidak berarti menunjukkan adanya masalah. Seorang bayi dengan lingkar kepala di persentil 90th dapat memiliki berat badan dan tinggi badan di persentil 90th. Ini artinya dia termasuk anak normal yang berperawakan besar. Sebaliknya, anak yang memiliki berat badan di persentil 20th bisa jadi memiliki orang tua yang tinggi dan beratnya juga di bawah rata – rata. Jadi sangat normal jika sang anak berada pada persentil 20th. Namun demikian, ada juga pola grafik yang naik tajam atau turun drastis atau grafik berada pad a kurva paling  ekstrim ( di luar dari semua kurva. Sebagai contoh, seorang anak memiliki berat badan di bawah persentil 5 th maka ia dimasukkan dalam kategori underweight ( berat badan kurang). Sedangkan anak dengan berat bada di persentil 85th akan dimasukkan dalam kategori overweight ( beresiko obesitas ) dan mereka yang memiliki berat badan di persentil di atas 95th digolongkan dalam obesitas. Terkadang ada juga grafik dengan kurva melebihi persnetil 95th atau saling silang antar kurva persentil. Misalkan awalnya ia berada di kurva persentil 40th kemudian langsung loncat ke persentil 75th. Artinya tanpa melewati persentil 50th dan 75th. Jika hal tersebut terjadi, maka perlu diperhatikan penyebab terjadinya kondisi tersebut. Di lain pihak, dapat juga terjadi pengukuran atau pola grafik jatuh di bawah persentil 5th atau saling silang antar kurv percentil. Misalkan, turun drastis dari persentil 50th ke 20th. Jika hal itu terjadi, maka dokter akan mengevaluasi kemungkinan adanya gangguan kesehatan yang mempengaruhi pertumbuhan sang anak. Meskipun grafik pertumbuhan adalah alat ukut yang sangat berharga, alangkah baiknya dokter ataupun orangtua tidak terfokus pada angka – angka atau kurv yang terdapat dalam grafik. Sebaliknya, angka – angka tersebut seharusnya dilihat sebagai sebuah trend. Grafik pertumbuhan juga dapat juga memberikan kesan yang salah tentang kondisi pertumbuhan anak. Contohnya, seorang anak memiliki tinggi badan di persentil 5th. Bukan berarti ia memiliki masalah kesehatan. Apalagi jika pola grafik atau trend kurvanya menunjukkan bahwa ia memang selalu berada di kurva persentil 5th ( sejak bayi hingga kini, sang anak selalu berada dalam kurva percentil 5th. Analisanya, bisa jadi sang anak mendapatkan gen ” pendek ”dari sang orang tua yang juga pendek. Jika dokter atau otang tua terpaku pada anagka di grafik pertumbuhan ( bukan trend grafik pertumbuhan ) maka bisa jadi kita akan salah menilai pertumbuhan anak. Khawatir terhadap hal yang salah. Ketika grafik pertumbuhan anak kita dibandingkan dengan anak – anak sebayanya. Selain suatu pola pertumbuhan. Pola tersebut akan memberitahukan kita bagaimana pertumbuhan anak kita dibandingkan dengan anak – anak sebayanya. Selain itu, pola tersebut juga menunjukkan kepada kita bagaimana progres sang anak dari pengukuran sevelumnya. Grafik pertumbuhan akan sangat bermanfaat jika dilihat sebagai pola pertumbuhan anak dibandingkan dengan melihat angka per angka.

4. Asupan Nutrisi Bayi-Remaja yang Adekuat

· Usia 0 – 6 bulan

WHO menyatakan ASI cukup sebagai makanan tunggal bayi untuk pertumbuhan normalnya, karena ASI melindungi bayi dari resiko terkena infeksi saluran pencernaan.

· Usia 6 – 9 bulan

ASI hanya memenuhi 60 – 70 % kebutuhan bayi. Pada usia ini bayi mulai membutuhkan MP-ASI. Usia 6 dan 7 bulan merupakan usia kritis memperkenalkan makanan padat kepada bayi karena membutuhkan keterampilan menguyah. Jangan sampai masa ini terlewatkan begitu saja karena dikhawatirkan bayi akan mengalami kesulitan mengunyah makanan.

· Usia 9 – 12 bulan

Kemampuan menguyah semakin matang pada usia ini.

Saran pemberian makanan padat pertama pada bayi :

1. Gunakan bahan makanan bayi yang bermutu tinggi sehingga menjamin kualitas zat gizi yang baik.

2. Sebagai awal, berikan makanan bayi yang lumat dan cair, seperti bubur susu atau bubur buah. Secara bertahap makanan dapat diberikan lebih kasar dan padat. Bayi berusia 6 bulan dapat diberikan nasi tim dengan gizi yang lengkap. Bayi usia 8 – 12 bulan mulai diberi makanan yang dicincang.

3. Sebaiknya diperkenalkan satu persatu jenis makanan hingga bayi mengenal dengan baik, minimal 4 hari. Selain untuk mengenal dengan baik makanan, juga dapat melihat jika terdapat reaksi alergi atau tidak.

4. Urutan pemberian MP-ASI seperti buah – buahan, tepung, sayuran, daging, ikan, telur, diberikan setelah lewat dari 6 bulan.0

5. Jadwal makan sesuai dengan keadaan lapar atau haus yang berkaitan dengan keadaan kembung.

· Usia sekolah

Membutuhkan lebih banyak energi dan gizi dibanding anak balita. Diperlukan tambahan energi, protein, kalsium, flour, zat besi sebab pertumbuhan sedang pesat dan aktivitas kian bertambah. Untuk memenuhi gizi anak seusia ini memerlukan 5 kali waktu makan, 3 kali makan ditambah 2 selingan.

· Remaja

Konsumsi lemak kuarang dari 30 % dan kalsium 800 – 1200 mg/hari. Kebutuhan energi untuk kebutuhan sehari – hari dapat dilihat dari berat badan seseorang. Remaja perempuan 10 – 12 tahun kebutuhan energinya 50 – 60 kal/kgBB/hari dan usia 13 – 18 tahun sebesar 40 – 50 kal/kgBB/hari. Kebutuhan protein meningkat karena proses tumbuh kembang berlangsung cepat. Kebutuhan protein usia 10 – 12 tahun 50 gr/hari, 13 – 15 tahun 57 gr/hari dan 16 – 18 tahun 55 gr/hari. Sumber protein diantaranya : daging, jeroan, ikan, keju, kacang – kacangan dan tempe. Kebutuhan vitamin dan mineral juga meningkat.untuk metabolisme energi dan pertumbuhan kerangka tubuh.

1 Comment

  1. ndah said,

    wezz… mantappPpppp…
    tenkyu sistah!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: