December 8, 2010 at 7:34 am (Uncategorized)

GANGGUAN ANXIETAS FOBIK

Gangguan ini ditandai dengan adanya anxietas yang dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri). Yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan. Sebagai akibatnya objek atau situasi tersebut dihindari tau dihadapi dengan perasaan terancam yang termasuk kedalam anxietas fobik adalah agoraphobia, fobia social, dan fobia khas (terisolasi).

Etiologi

Penelitian melaporkan bahwa 2/3 sampai ¾ pasien yang terkena memiliki sekurangnya memiliki satu sanak saudara derajat pertama dengan fobia spesifik dengan fobia tipe yang sama. Neurotransmitter utama yang terlibat adalah norepenefrin, serotonin dan GABA (gammaaminobutric acyd). Dibatang otak, kemungkinan korteks prafrontalis bertanggung jawab untuk menghindari terjadinya fobik. Pada tomografi emisi positron (PET) ditunjukan oleh suatu disregulasi pembuluh darah serebral. Gangguan ini memiliki komponen genetic yang jelas. Fobia menggambarkan interaksi antara diatesis genetika konvensional dan stressor lingkungan. Pada gejala fobik kelemahan respon terhadap stimulus fobik yang dibiasakan tidak terjadi. Freud memandang fobia sebagai akibat komplik yang berpusat pada situasi oedipal masa anak – anak yang tidak terpisahkan. Pada agoraphobia teori psikoanalitik menekankan kematian orang tua pada masa anak – anak dan suatu riwayat kecemasan perpisahan. Sendirian didepan public menghidupkan kembali masa anak – anak tentang ditelantarkan.

Manifestasi klinis

Secara subjektif, fisiologik, dan tampilan prilaku anxietas fobik tidak berbeda dari anxietas lain dan dapat dalam bentuk yang ringan sampai berat (serangan panic). Anxietas fobik sering kali bersamaan depresi.

Perjalanan penyakit dan prognosis

Suatu episode depresi sering kali memburuk keadaan anxietas fobik yang sudh ada sebelumnnya. Agoraphobia tanpa riwayat gangguan panic seringkali membaik dengan perjalanan waktu. Gangguan depresi dan ketergantungan terhadap alcohol seringkali mempersulit.

Diagnosis

Diagnosis pasti ketiga kelompok gangguan anxietas fobik harus memenuhi criteria sebagai berikut :

Gejala psikologis prilaku atau otonom yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder seperti waham atau pikiran obsesi.

Anxietas yang timbul harus terbatas, untuk agoraphobia, pada (terutama terjadi dalam hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi berikut : banyak orang atau keramaian, tempat umum, berpergian keluar rumah, dan berpergian sendiri. Untuk fobia social, pada situaasi social tertentu. Untuk fobia yang khas, pada adanya objek atau situasi fobik tertentu.

Menghindari fobik harus ada atau sudah merupakan gejala yang menonjol.

Penatalaksanaan

Terapi yang paling efektif adalah kombinasi farmakoterapi dan terapi kognitif prilaku. Untuk farmakoterapi dapat digunakan obat – obat seperti yang digunakan untuk mengatasi gangguan panic. Terapi kognitif dapat mengintervensi kepercayaan yang salah. Pasien dapat diajarkan untuk melakukan relaksasi otot dan bagaimana mengandalikan dorongan untuk melakukan hiperventilasi dengan pernafasan yang teratur.

GANGGUAN PANIK

Gangguan panic adalah gangguan yang ditandai dengan terjadinya serangan panic yang spontan dan tidak diperkirakan.

Etiologi

Terdapat hipotesis yang melibatkan disregulasi system saraf perifer dan pusat didalam patofisiologi gangguan panic. Dilaporkan adanya peningkatan tonus simpatik pada beberapa orang dengan gangguan panic. System neurotransmitter utama yang terlibat adalah norefinefrin, serotonin, dan GABA. Dalam lingkungan penelitian ditemukan zat penyebab panic yang biasa di sebut dengan panikogen yang menyebabkan stimulasi respirasi dan pergeseran keseimbangan asam basa. Beberapa penelitian bahwa infuse laktat, PET scan, dan prolaps valvula mitral ditemukan pada pasien dan diperkirakan sebagai penyebab factor biologic pada gangguan ini. Ada petunjuk kuat factor genetic ikut berperan. Angka prevalensi tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panic demikian juga pada kembar monozigot. Teori psikososial menyatakan bahwa panic terjadi karena kegagalan mekanisme pertahanan terhadap impuls yang menyebabkan kecemasan.

Manifestasi klinis

Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selam 10 menit. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Serangan ini biasanya berlangsung selama 20 – 30 menit dan jarang lebih lama dari 1 jam. Gejala mungkin menghilang dengan cepat atau bertahap.

Serangan panik adalah periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relatif singkat (biasanya kurang dari 1 tahun). Yang disertai dengan gejala somatik tertentu. Gangguan panik serung berlanjut menjadi agorafobia dengan serangan panik. Gejala somatik saat panik terdiri dari :

Palpitasi

Berkeringat

Gemetar / berguncang

Rasa sesak nafas atau tertahan

Perasaan tercekik

Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman

Mual / gangguan perut

Pusing, bergoyang, melayang atau pingsan

Derealisasi atau depersonalisasi

Katakutan kehilanagn kendali atau menjadi gila

Rasa takut mati

Parestesia atau mati rasa atau sensasi geli

Menggigil atau perasaan panas

Perjalanan penyakit dan prognosis

Gangguan panik biasanya muncul dalam masa remaja akhir atau masa dewasa awal. Biasanya kronik dan bervariasi pada tiap individu. Defresi dapat mempersulit walaupun pasien tidak cenderung berbicara tentang ide bunuh diri, mereka cenderung beresiko tinggi. Pasien dengan fungsi pramorbid yang baik dan lama gejala singkat cenderung memiliki prognosis yang baik.

Diagnosis

Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan dalam masa kira – kira 1 bulan :

Pada keadaan – keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya

Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya

Dengan kedaan relatif bebas dari gejala – gejala anxietas pada periode diantara serangan – serangan panik (meskipun demikian pada umumnya dapat terjadi anxietas antisipatorik, yaitu anxietas yang terjadi estela membayangkan sesuatu yang terjadi).

Penatalaksanaan

Meliputi farmakoterapi dan psikoterapi. Perlu diketahui bahwa gejala panik baru tampak berkurang setelah minum obat 2 – 4 minggu. Psikoterapi meliputi terapi kognitif dan prilaku. Terapi psikososial yang lai dapat digunakan hádala terapi keluarga dan psikoterapi berorientasi tilikan. Perhatian khusus ditunjukan kepada makna yang tidak disadari terhadap panik.

GANGGUAN CEMAS MENYELURUH

Adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati dengan berbagai gejala somatik, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungís social atau pekerjaan dan penderitaan yang jelas bagi pasien.

Etiologi

Walaupun Belum terbukti bahwa receptor benzodiazepin abnormal, tetapi banyak orang melakukan penelitian pada lobus oksipitalis yang memiliki konsentrasi benzodiazepin tertinggi. Terdapat laboran yang menyatakan bahwa 50 % terjadi pada kembar monozigotik dan 15 % pada kembar dizigotik.

Pada gangguan ini terdapat hipotesis bahwa pasien mewujudkan respon secara tidak tepat dan tidak akurat terhadap bahaya yang dihadapinya. Dan dikatakan pula terdapat gejala konflik bawah sadar yang tidak terpecahkan.

Manifestasi klinis

Gejala utamanya adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering dimanifestasikan dengan gemetar, gelisah, dan nyeri kepala. Hiperaktifitas dimanifestasikan oleh sesak nafas, keringat berlebihan, palpitasi dan gejala gastrointestinal. Gejala lain adalah mudah tersinggung dan dikejutkan. Pasien sering sekali datang ke dokter umum atau penyakit dalam dengan keluhan somatik yang spesifik.

Perjalanan penyakit dan prognosis

Perjalanan penyakit dan prognosis gangguan sukar diperkirakan. Gangguan ini adalah suatu keadaan kronik yang mungkin berlangsung seumur hidup.

Diagnosis

Kriteria untuk diagnosis pasti adalah :

Anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiaphari sampai beberapa bulan.

Mencakup gejala kecemasan, ketegangan motorik, dan hiperaktivitas atonomik.

Pada anak – anak sering terlihat adanya kebutuhan yang berlebihan untuk ditenangkan serta keluhan somatik berulang yang menonjol.

Gejala lain yang sifatnya sementara seperti depresi selama tidak memenuhi kriteria yang lengkap dari gangguan jiwa lain.

Terapi

Pengobatan yang efektif adalah kombinasi psikoterapi, farmakoterapi dan pendekatan suportif. Pendekatan psikoterapi utama adalah terapi kognitif prilaku, suportif, dan berorientasi tilikan. Dua obat utama adalah buspiron dan benzodiazepin.

GANGGUAN NEUROSIS DEPRESI

Menyatakan bahwa pola berpikir dan berprilaku yang maladaptif dan berulang yang menyebabkan depresi. Pasien seringkali penuh kecemasan, obsesi dan rentan terhadap somatisasi. Dalam klasifikasi menurut pedoman penatalaksanaan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ III), gangguan ini termasuk kedalam kategori diagnostik gangguan distimia dalam gangguan suasana perasaan (Mood / afektif) menetap.

Etiologi

Terdapat faktor biologis yaitu kelainan tidur dan kelainan neuroendokrin. Dilaporkan adanya kesalahan perkembangan kepribadian dan ego yang memuncak dalam kesulitan beradaptasi pada masa remaja dan dewasa muda.

Manifestasi klinis

Gangguan ini ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan atau berkurangnya dan tidak adanya minat pada aktivitas. Pasien kadang – kadang dapat sarkastik, nihilistik, memikirkan hal yang sedih, membutuhkan, dan mengeluh. Dan mereka dapat juga tegang, kaku dan menolak intervensi terapeutik. Gejala penyerta adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi, retardasi psikomotor, penurunan dorongan seksual dan preokupasi obsesi dengan masakah kesehatan.

Perjalanan penyakit dan prognosis

Kira – kira 50 % pasien yang mengalami timbulnya gejala yang samar – samar sebelum usia 25 tahun. Dan prognosis yang bervariasi.

Diagnosis

Kriteria diagnostik memerlukan adanya mood yang terdepresi pada sebagian besar waktu untuk sekurangnya 2 tahun atau 1 tahun untuk anak – anak dan remaja. Untuk memenuhi kriteria diagnostik, pasien tidak boleh memiliki gejala yang lebih baik dilaporkan sebagai gangguan depresi berat. Pasien tidak boleh memiliki episode manik atau hipomanik.

Penatalaksanaan

Kombinasi farmaoterapi dan terapi kognitif maupun prilaku yang mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif untuk gangguan ini.

GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI

Gangguan ini mencakup pasien yang memiliki gejala kecemasan dan depresi, tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan kecemasan maupun suatu gangguan mood. Kambinasi gejala depresi dan kecemasan dapat menyebabkan gangguan fungsioanal yang bermakna pada orang yang terkena.

Etiologi

Empat bukti utama yang menyatakan bahwa gejala kecemasan dan gejala depresi berhubungan sebab akibat pada beberapa pasien yang terkena, yaitu :

Ditemukannya neuroendokrin yang sama pada gangguan depresi dan gangguan kecemasan, khususnya gangguan panik.

Hiperaktivitas sistem noradrenergik relevan yang menyebabkan pada beberapa pasien dengan gangguan depresi dan pada beberapa pasien dengan gangguan panik.

Obat serotonergik berguna dalam mengobati gangguan depresi maupun kecemasan

Gejala kecemasan dan depresi berhubungan secara genetik pada beberapa keluarga.

Manifestasi klinis

Kombinasi beberapa gejala gangguan kecemasan dan beberapa gejala gangguan depresi. Disamping itu, gejala hipeeraktivitas sistem saraf otonom, seperti keluhan gastrointestinal, yang sering ditemukan.

Perjalanan penyakit dan prognosis

Selama perjalanan penyakit, gejala kecemasan atau depresi mungkin bergantian muncul. Prognosis tidak diketahui saat ini.

Diagnosis

Kriteria untuk diagnosis pasti adalah :

Terdapat gejala – gejala anxietas maupun depresi, dimana masing – masing tidak menunjukan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala otonom haruas ditemukan walaupun tidak terus menerus, disamping rasa cemas atau ke khawatiran yang berlebihan.

Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxiets fobik.

Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakan masing – masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika hanya dapat dikemukakan satu diagnosis, maka gangguan depresi harus diutamakan.

Bila gejala – gejala tersebut berkaitan erat dengan stress kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori gangguan penyesuaian.

Penatalaksanaan

Pendekatan psikoterapi dapat terapi kognitif atau modifikasi prilaku. Farmakoterapi dapat termasuk obat anti anxietas atau obat antidepresan atau keduanya. Diantara obat anxiolitik, penggunakan triazolobenzodiazepin mungkin diindikasikan karena efektifitas obat tersebut dalam mengobatai depresi yang disertai kecemasan. Suatu obat yang mempengaruhi reseptor serotonin tipe 1A (5-HT1A), seperti buspiron, dapat diindikasikan. Diantara antidepresan, antidepresan serotonergik mungkin yang paling efektif.

GANGGUAN OBSESI-KOMPULSI

Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu. Kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekurens, seperti berhitung, memeriksa, atau menghindari.

Etiologi

Terdapat hipotesis bahwa ada keterlibatan disregulasi serotonin. Pada PET ditemukan peningkatan aktivitas di lobus frontalis, ganglia basalis, dan singulum. 35% pasien gangguan ini memiliki sanak saudara derajat pertama dengan gangguan yang sama.teori psikodinamis yang menyatakan bahwa adanya hubungan digan beberapa mekanisme pertahanan, antara lain isolasi, undoing, reaksi formasi.

Manifestasi klinis

Gejala yang mungkin bertumpang tindih dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Gangguan ini memiliki 4 pola gejala umum, yaitu obsesi terhadap kontaminasi, obsesi keragu – raguan yang diikuti oleh pengecekan yang kompulsi, pikiran yang obsesional yang mengganggu, dan kebutuhan terhadap simetrisitas atau ketepatan.

Gejala – gejala obsesi harus mencakup hal – hal sebagai berikut :

Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri

Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilatan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilatan oleh pasien

Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan ( tidak termasuk sekedar perasaan lega dari ketegangan)

Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tesebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan

Ada kaitan erat antara gejala obsesi, terutama pikiran obsesi, dengan depresi. Pasien gangguan obsesi kompulsi seringkali juga menunjukkan gejala depresi, dan sebaliknya pasien gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran – pikiran obsesi selama episode depresinya. Gejala obsesi sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom tourette, atau gangguan mental organik, yang harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.

Perjalanan penyakit dan prognosis

Sebagian besar gejala yang muncul secara tiba – tiba, terutama estela satu peristiwa yang menyebabkan stres, seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian seorang sanak saudara. Perjalanan penyakit biasanya lama atau bervariasi, beberapa dapat berfluktuasi namun ada pula yang constan.

Prognosis yang buruk terjadi apabila pasien mengalah pada kompulsi, yang berawal pada masa anak – anak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan di RS, gangguan depresi berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang, dan adanya gangguan kepribadian. Prognosis yang baik ditandai oleh penyesuaian social dan pekerjaan yang baik dengan adanya peristiwa pencetus, dan sifat gejala yang episodik.

Diagnosis

Untuk mnegakkan diagnosis pasti, gejala – gejala obsesif atau tindakan kompulsi atau keduannya harus ada hampir setiap hari sedikitnya 2 minggu berturut – turut. Hal itu merupakan sumber penderitaan atau mengganggu aktivitas pasien.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan meliputi farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi standar adalah dengan obat spesifik serotonin seperti klomipramin atau penghambat ambilan kembali serotonin spesifik (SSRI) seperti fluoksetin. Dan apabila terapi gagal, terapi dapat diperkuat dengan menambahkan litium atau penghambat monoamin oksidase (MAOI), khususnya fenelzin.

Psikoterapi meliputi terapi perilaku dengan desensitisasi dan terapi keluarga apabila terdapat faktor disharmoni keluarga yang mempengaruhi timbulnya gangguan tersebut.

REAKSI TERHADAP STRESS BERAT

Pada gangguan ini terdapat suatu stress emosional yang besar yang akan menarik semua orang.

Etiologi

Respon terhadap trauma lebih berperan darioada beratnya stress. Faktor Predisposisi

Adanya trauma pada masa anak-anak

Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau antisocial

System pendukung yang tidak adekuat

Kerentanan genetic

Perubahan hidup penuh stress yang baru saja terjadi

Persepsi lokus control eksternal, bukan internal

Penggunaaan alcohol yang baru

Gambaran klinis

Pengalaman ulang peristiwa yang menyakitkan,

Suatu pola yang menghindar dan kekakuan emosional

Kesadaran berlebihan yang hampir menetap.

Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respon maladaptif terhadap stress berat atau stress yang berkelanjutan dimana mekanisme penyesuaian tidak berhasil mengatasi sehingga menimbulkan masalah dalam fungsi sosialnya.

Prognosis

30% pasien pulih sempurna,

40% terus menderita gejla ringan

20%terus mengalami gejala sedang

10% tidak berubah atau malah memburuk

Umumnya orang yang sangat muda atau sangat lebih tua mengalami kesulitan

Terapi

Pendekatan utama adalah mendukng, mendorong untuk mendiskusikan peristiwa dan pendidikan tentang berbagai mekanisme mengatasinya.

Uji klinis menyatakan imipramin dan antitriptilin baik. Obat lain yang mungkin berguna adalah SSRI, MAOI, dan antikonvulsan

GANGGUAN PENYESUAIAN

Adalah reaksi maladaptif jangka pendek terhadap apa yang disebut orng awam sebagai nasib malang pribadi atau apa yang disebut dokter psikiatrik sebagai stressor psikososial. Disebut maladaptif karna adanya hendaya dalam fungsi sosial atau pekejaan, atau karna gejala atau prilaku dibawah normal.

Etiologi

Satu atau beberapa stressor. Dimana inti dari mengerti gangguan penyesuian adalah sifat stressor, arti sadar dan bawah sadar stressor dan kerentanan pasien.

Manifestasi klinis

Sampai tiga bulan mungkin ditemukan dan perkembangan gejala.

Gejala

Depresi

Kecemasan

Perilaku menyerang dan kebut-kebutan

Minum berlebihan

Melarikan diri dari tangung jawab hukum

Menarik diri

Prognosis

Prognosis baik dengan pengobatan yang sesuai. Remaja biasanya memerlukan waktu pulih lebih lama dibanding orang dewasa.

Diagnosis

Diagnosis bergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara :

bentuk, isi dan beratnya gejala

Riwayat sebelumnya atau corak kepribadian

Kejadian, situasi yang penuh stress atau krisis kehidupan

Adanya ketiga faktor diatas harus jelas dan mempunyai bukti yang kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami hal tersebut.

Manifestasia gangguan bervariasi dan nencakup afek depresi, ansietas, campuean depresi ansietas, gangguan tingkah laku disertai disabilitas dalam kegiatan rutin sehari-hari.

Biasanya terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang penuh dengan stress, dan gejala tidak bertahan melebihi 6 bulan kecuali dalam hal reaksi depresi berkepanjangan.

Penatalaksanaan

Psikoterapi meerupakan pengobatan terpilh untuk gangguan penyesuaian. Terapi kelompok juga dapat sangat berguna. Obat antiansietas atau antidepresan tergantung jenis gangguan.

GANGGUAN DISOSIATIF ( KONVERSI )

Adalah suatu kelompok gangguan dengan gejala utama kehilangan sebagian atau seluruh integrasi normal (dibawah kendali kesadaran) antara ingatan masa lau, kesadaran identitas dan penginderaan segera, serta kontrol terhadap gerakan tubuh.

Yang termasuk gangguan disosiatif :

Amnesia disosiatif

Fugue disosiatif

Supor disosiatif

Trans dan kesurupan

gangguan motorik disosiatif

konvulsi disosiatif

anesesia dan kehilangan sensorik

gangguan disosisatif campuan

gangguan disosiatif lainnya

Etiologi

Pada seseorang dengan gangguan amnesia disoisatif terdapat kompleksitas pembentukan dan pengumpulan ingatan. Pendekatan psikoanalitik menytakan amnesia sebagai meknisme pertahanan dimana orang mengubah kesadarannya sebagai cara untuk menghadapi suatu konflik emosional atau stressor eksternal.

Prognosis

Gejala amnesia biasanya pulih tiba-tiba dan lengkap dengansedikit rekurensi. Klinisi harus memulihkan sesegera mungkin.

Fugue biasanya singkat, beberap jam sampai beberapa hari. Umumnya pemulihan cepat dan jarang rekuren.

Diagnosis

Gambaran klinis

Amnesia disosiatif dengan ciri utama hilangnya daya ingat

Fugue disosiatif memiliki ciri-ciri amnesia, melakukan perjalanan tertentu melampui hal yang umum dilakukannya sehari-sehari dan kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada, termasuk melakukan interaksi sosial sedrhana dengan orang yang belum dikenal.

Stupor disosiatif sangat berkurangnya atau hilanngnya gerakan-gerakan volunter dan respon normal terhadap rangsangan luar.

Ganguan trans dan kesurupan, adanya kehilangan sementara aspek penghayatan atas identitas diri dan kesadaran atas lingkungannya.

Gangguan motorik disosiatif bentuk yang paling umum adalah ketidakmampuan menggerakkan seluruh atau sebagian anggota gerak.

Konvulsi disosiatif dapat sangat mirip dengan kejang epileptik dalam gerrakan-gerakannya dan tidak dijumpai kehilanagn kesadaran.

Amnesia dan kehilangan sensorik disosiatif

Penatalaksaan

Dengan menggali konndisi fisik dan neurologisnya. Barbiturat kerja sedang dan kerja kerja singkat seperti tiopental dan batrium anobarbital diberikan secara intravena dan bevzodiazepin dapat berguna untuk memulihkannya ingatannya yang hilang.

Pengobatan terpilih untuk fugue disosiatif adalah psikoterapi psikodinamik suportif-ekspresif.

GANGGUAN SOMATOFORM

Adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik dimana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.

Etiologi

Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikis dibawah sadar yang mempunyai tujuan tertentu. Ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan ini.

Manifestasi klinis

Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan gejala fisik yang berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan olehdokternya bahwa tidak terjadi kelainan yang mendasari keluhannya. Keluhan dibedakan tiap subtipe, yaitu :

Gangguan somatisasi, ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ

Gangguan konversi, ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis

Hipokondriasis, ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan daripada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.

Gangguan dismorfik tubuh, ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat

Gangguan nyeri, ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna diekserbasi oleh faktor psikologis.

Prognosis

Umumnya dimulai sebelum usia sebelum usia 30thn. Prognosis umumnya sedang sampai buruk. Prognosis gangguan konversi baik apabila timbul tiba-tiba, stressor mudah dikenali, penyesuaian pramorbid yang baik, tidak ada gangguan psikiatrik atau medis komorbid dan tidak ada tuntutan yang terus-menerus.

Hipokondriasis berlangsung episodik. Setiap episode brlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun dan dipisahkan oleh episode tenang yang sama panjangnya. Prognosis baik berhubungan dengan status sosioekonomi yang tinggi, awal yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian, dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyertai.

Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul bertahap. Namun dapat berlangsung kronik jika tidak diobati.

Prognosis buruk bila terdapat gangguan depresi, gangguan kepribidian tergantung atau histrionik, dan penyalahguanaan alkohol atau zat lain.

Penatalaksanaan

Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan intervensi krisis. Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan berbagai tehnik. Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan gejala, tinjuan psikososial dan psikoterapi.

Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, pentalaksanaan stress, psikoterapi, dan pemberian antidepresan.

Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan terapi dan pemeberian antidepresan

GANGGUAN NEUROTIK

Neurastenia

Diagnosis pasti memerlukan hal-hal berikut :

adanya keluhan yang menetap dan mengganggu berupa meningkatnya rasa lelah setelah sesuatu kegiatan mental atau keluhan mengenai kelemahan badan dan kehabisan tenaga hanya setelah kegiatan ringan.

Paling sedikit ada dua dari hal-hal tersebut :

* perasaan sakit dan nyeri otot-otot
* pusing kepala
* sakit kepala
* gangguan tidur
* tidak dapat bertsantai
* peka/mudah tersinggung
* dispepsia

Sindrom Desentralisasi-depersonalisasi

Untuk diagnosis pasti harus ada salah satu atau dua-duanya dari a dan b ditambah c dan d

a) Gejala depersonalisasi

b) Gejala derealisasi

c) Memahami bahwa hal tersebut merupakan peruboahan spontan dan subjektif serta bukan yang disebabkan oleh kekuatan orang luar atau orang lain

d) Penginderaan tidak terrganggu dan tidak ada toxic confusional state atau epilepsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: